Pengaruh ablasi mata terhadap kecepatan kematangan gonad kepiting bakau (Sylla serrata) betina

Muhammad Robi, Erlangga Erlangga

Abstract


Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan jenis golongan Crustaceae   yang mengandung protein hewani yang cukup tinggi dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Ablasi mata merupakan salah satu cara untuk menghilangkan hambatan perkembangan telur (gonad) pada kepiting bakau. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) non factorial dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Adapun perlakuan dalam penelitian ini adalah perlakuan A (ablasi satu pasang mata), perlakuan B (ablasi mata kiri), C (ablasi mata kanan), D (tanpa ablasi).   Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan kematangan gonad tertinggi pada perlakuan C (ablasi mata kanan) yaitu pertumbuhan gonad mencapai 21,53% dan terendah terjadi  D (tanpa ablasi)  pertumbuhan gonad hanya 14,8%. Analisa statistik dengan uji F menunjukan bahwa ablasi mata berpengaruh terhadap kecepatan kematangan gonad kepiting bakau. Pertambahan bobot tertinggi  terdapat pada perlakuan C (ablasi mata kanan) yaitu sebesar 2,67 gr kemudian disusul oleh D (tanpa ablasi)  sebesar 1,89 gr  dan terakhir  pada B (ablasi mata kiri) dengan nilai rata-rata sebesar 0,77 gr. Tingkat kelangsungan hidup terbaik terdapat pada perlakuan D (tanpa ablasi)   yaitu 100%, perlakuan B (ablasi mata kiri) 77,77%, perlakuan C (ablasi mata kanan) 66,66% dan kelansungan hidup terendah terjadi pada perlakuan A (ablasi satu pasang mata) 0%. Rata-rata kualitas air selama penelitian adalah suhu 27 0C dan Ph 7,65.

Mangrove crab (Scylla serrata) have been classifying in Crustaceae clas that containing high animal protein and high economic value. Ablation of the eye is an solution to eliminate the egg development (gonads) barriers in the mangrove crab. The research design used a completely randomized design (CRD) non- factorial with 4 treatments and 3 replications. Treatment in this study were the treatment of A (ablation of the pairs of eyes), treatment B (left eye ablation), treatment C (right eye ablation), D (without ablation). The results showed that the highest rate of gonadal maturation was in treatment C (right eye ablation) where gonadal development growth reached 21.53 %, whereas the lowest was in treatment D (without ablation) where gonadal development growth was only 14.8 %. Statistical analysis by F test showed that ablation of the eye was affected the mud crab gonadal maturity. The Weight gain was found highest in the treatment C (right eye ablation) that reached 2.67 g and followed by treatment D (without ablation) 1.89 grams and the last in the treatment B (left eye ablation) with was an average value 0.77 grams. The higest survival rate was found in treatment D (without ablation) 100 %, treatment B (left eye ablation) 77.77 %, treatment C (right eye ablation) 66.66 % and the lowest survival rate was occurred in treatment A (ablation of the pairs of eyes) 0 %. The avarge values of water quality during the study showed that the temperature was reched 27 0C and pH was 7, 65.


Keywords


Crustacea; Pemotongan mata; Gonad

Full Text:

PDF

References


Afrianto, E., Liviawaty, 1992. Pemeliharaan Kepiting, Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Amir, 1994. Penggemukan dan Peneluran Kepiting Bakau, Tehcner. Jakarta.

Anonymous, 2011. Materi pokok 2. Teknik Pembenihan Kepiting Bakau, pusat Penyuluhan dan Perikanan Jakarta.

Boer, 1993. Studi pendahuluan Penyakit kunang-kunang pada larva kepiting Bakau (Scylla serrata), Journal Penelitian Budidaya Pantai.

Buwono, I.D., 1993. Tambak Udang Windu Sistem Pengelolaan Intensif. Kanisius. Yogyakarta.

Brotowidjoyo, M.D, Dj. Tribawono, E. Mulbyantoro, 1995. Pengantar Lingkungan Perairan dan Budidaya Air. Penerbit Liberty, Yogyakarta.

Cholik, F., 2005. Review of Mud Crab Culture Research in Indonesia, Central Research Institute for Fisheries, PO Box 6650 Slipi, Jakarta, Indonesia,

Effendie, 1979. Metoda Biologi Perikanan. Dwi Sri. Bogor.

Fushimi, H & S. Watanabe, 2003. Problem in Species Indentification of the Mud Crab Genus Scylla (Brachura: Portunidae), Department of Marine

Gufron, M., & H. Kordi, 2000, Budidaya kepiting & Ikan Bandeng di tambak sistem polikultur, Semarang, Dahara Prize.

Gunarto, 2002. Budidaya Kepiting Bakau (Scylla serrata Forskal) di Tambak. Balai Penelitian Budidaya Pantai. Maros.

ISU, 1992. Managing lowa Fisheries, Water Quality. Lowa State University.

Kanna I., 2002, Budidaya Kepiting Bakau Pembenihan dan Pembesaran, Yogyakarta, Kanisius.

Kasry, A., 1996. Budidaya Kepiting Bakau dan Biologi Ringkas, Penerbit Bharata. Jakarta.

Kuntiyo, A. Zaenal, T. Supratno, 1994. Budidaya Kepiting Bakau (Scylla serrata) ditambak dengan sistem Progesy. Dalam laporan tahunan Balai Budidaya Air Payau 1994-1995. Direktorat Jenderal Perikanan. Departemen Pertanian, akarta.

Mardjono, M., N. Hamid & M.L. Nurdjana, 1992. Budidaya Kepiting Bakau Lahan Usaha Baru yang Menguntungkan. Makalah Seminar sehari. Jakarta 8 Juli 1992.

Mardjono, M., Anindiastuti, Noor Hamid, Iin S. Djunaidah & W.H.Satyantini, 1994 Pedoman Pembenihan Kepiting Bakau (Scylla serrata) BBAP Jepara.

Mossa, K., I. Aswandy & A. Kasry, 1995. Kepiting Bakau Scylla serrata dari Perairan Indonesia. LON – LIPI. 18 hal.

Ramelan H.S, 1994. Pembenihan Kepiting Bakau (Scylla serrata). Direktorat Bina Perbenihan.Direktorat jenderal Perikanan. Jakarta.

Sulaeman & A. Hanafi, 1992. Pengaruh pemotongan tangkai mata terhadap kematangan gonad dan pertumbuhan kepiting bakau (Seyla serrata). Jurnal Penelilian Budidaya Pantai.

Tanod, A., M. Sulistiono, S. Watanabe, 2001. Reproduction and Gowth of Mud Crabs in Segara Anakan Lagoon Indonesia.

Watanabe, S., M. Sulistiono, Yokata dan R. Fuseya.1996. The Fishing gear and method of mud crab in Indonesia

Anonimous, 2000. Crab Resources around Mangove Swamps with Special Reference to Harvesting of mangrove Seedings by Crabs.

Wahyuni, E. & W. Ismail, 1997. Beberapa Kondisi Lingkungan Perairan Kepiting Bakau (Scylla sp). LIPI – Jakarta.

Wulansari, 2008. Pengaruh Ablasi Mata Terhadap Pertumbuhan Kepiting bakau (scylla serrata) Dalam Kawasan Mangrove Cilacap Jawa Tengah.




DOI: https://doi.org/10.29103/aa.v1i1.292

Article Metrics

#### view : 747 times
PDF 17 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.



Copyright (c) Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal   

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.