Sanksi Pidana Adat; Studi terhadap Kasus Perzinaan di Keude Krueng Geukueh

Sela Azkia

Abstract


Dalam kehidupan sosial ada hukum yang tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat yang kemudian disebut hukum adat. Aturan itu tidak boleh bertentangan dengan hukum yang berlaku secara Nasional, namun hukum adat dan hukum pidana adat masih digunakan di daerah-daerah tertentu, khususnya di daerah Gampong Keude Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara.Penelitian ini melihat bagaimana proses penyelesaian dan penerapan sanksi pidana adat terhadap pelaku tindak pidana zina itu sendiri, serta hambatan yang ditemui dan upaya mengatasi hambatan pada penerapannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penyelesaian dan penerapan sanksi pidana adat terhadap pelaku tindak pidana zina itu sendiri, serta hambatan yang ditemui dan upaya menagatasi hambatan pada penerapannya. Metode kualitatif dengan bentuk penelitian yuridis empiris melalui pendekatan yuridis sosiologis menjadi metode penulis dalam melakukan penelitian ini.Hasil dari penelitian ini bahwa  proses  penyelesaian  perkara  zina  di  Gampong  Keude  Krueng  Geukueh diselesaikan melalui  musyawarah  adat  dengan  sanksi  yang  diberikan  merujuk  pada  sanksi  terdahulu  yang  telah  diterapkan  oleh  para  pemuka  adat .  Hambatan  dalam  penerapan  sanksi  pidana  adat  adalah  faktor  penegak  hukum  yang  masih  memiliki  rasa  simpati  kepada  pelaku  sehingga  berdampak  pada  pemberian sanksi dan  faktor  masyarakat  yang  ragu  melapor,  sehingga  upaya  yang  dilakukan  untuk  mengatasi  hambatan  tersebut  adalah  dengan  melakukan  pembinaan adat  dan  syara’,  sosialisasi  adat,  serta  penetapan  kebijakan  oleh  pemerintah  Gampong.

 

Keywords


Hukum Pidana Adat, Tindak Pidana Zina, Peradilan Adat, Aceh

Full Text:

PDF

References


AKP Erpan Syahputra, Kepala Kepolisian Sektor Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, wawancara tanggal 26 Juli 2018, di Gampong Keude Krueng Geukueh.

Ardi Ilyas, Keuchiek Gampong Keude Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, wawancara pada tanggal 29 Juni 2018 di Gampong Keude Krueng Geukueh.

Dian, Guru SMAN 1 Dewantara, wawancara pada tanggal 20 Juli 2018 di Gampong Keude Krueng Geukueh.

Teuku Kamaruzzaman, Anggota Majelis Adat Aceh Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, wawancara pada tanggal 13 Juli 2018 di Gampong Keude Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara.

Tgk. Muhammad Iqbal Rusli, Anggota Tuha PeutGampong Keude Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara, wawancara pada tanggal 29 Juni 2018 di Gampong Keude Krueng Geukueh.

Abubakar, Y. A., dan. Hasan, S. M. 2006, Perbuatan Pidana dan Hukumannya Dalam Qanun Provinsi NAD (Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam), Banda Aceh: Dinas Syariat Islam Provinsi NAD (Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam).

Anwar, C. 1997.Hukum Adat Indonesia Meninjau Hukum Adat Minangkabau. Jakarta:Rineka Cipta.

Aswar, T. R. I 2004, “Lembaga-lembaga Adat dan Hukumnya”, Training Hukum Adat dan Istiadat Bagi Anggota Polri dan Peutua Adat Se-Provinsi NAD, Banda Aceh, 26-30 Juli.

Dahlan, A. A., Ed.1996. Ensiklopedi Hukum Islam, Ikhtiar Jakarta: Baru Van Houve.

Ismail, B. 2008. Pedoman Peradilan Adat di Aceh. Banda Aceh: T.t.p.

Topo Santoso, 1990, Pluralisme Hukum Pidana Indonesia, PT. Ersesco, Jakarta.


Article Metrics

#### view : 86 times
PDF 0 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Sela Azkia


REUSAM: Jurnal Ilmu Hukum

P-ISSN : 2338-4735

E-ISSN : 2722-5100