Studi Kasus Gizi Kurang dan Stunting pada Anak Usia 34 Bulan di Desa Mamplam Puskesmas Nibong

Authors

  • Ayu Pramita Azari Mahasiswa Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh Lhokseumawe
  • Aulia Arista Hasibuan Mahasiswa Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh Lhokseumawe
  • Noviana Zara Departemen Ilmu Kedokteran Keluarga Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh Lhokseumawe
  • Mardiati Mardiati Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh Lhokseumawe
  • Juwita Sahputri Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh Lhokseumawe
  • Rahmi Surayya Departemen THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh Lhokseumawe
  • Sarah Rahmayani Siregar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh Lhokseumawe
  • Bungsu Keumala Sari Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

DOI:

https://doi.org/10.29103/jkkmm.v2i6.8088

Keywords:

Gizi Kurang, determinan gizi kurang, stunting

Abstract

Masalah gizi kurang dan stunting pada anak balita masih menjadi masalah gizi utama yang perlu mendapat perhatian. Masalah gizi secara langsung disebabkan oleh asupan yang kurang dan penyakit infeksi. Di Indonesia, jumlah balita gizi buruk dan gizi kurang menurut Riskesdas 2018 masih sebesar 17,7%. Prevalensi stunting dalam 10 tahun terakhir menunjukkan bahwa stunting merupakan salah satu masalah gizi terbesar pada balita di Indonesia. Riskesdas 2018 juga menunjukkan 30,8% balita menderita stunting dan 29,9% baduta pendek dan sangat pendek. Berbagai faktor yang mempengaruhi kejadian buruk dan gizi kurang, dan stuntingbaik secara langsung maupun tidak langsung. Penelitian ini merupakan sebuah studi kasus terhadap seorang balita berusia 34 bulan di desa Mamplam tahun 2022. Studi kasus ini dilakukan dengan cara observasi pasien selama 3 minggu dengan pendekatan home visit. Diagnosis gizi kurang dan stunting ditegakkan berdasarkan pedoman nasional Permenkes RI no 2 tahun 2020 tentang standar antropometri anak. Setelah didiagnosis, pasien yang edukasi, pemberian makanan tambahan dari puskesmas, melakukan pengamatan pertumbuhannya serta menganalisis faktor-faktor yang berperan terhadap masalah.Pada kunjungan pertama didapatkan BB pasien 9,2 kg dan TB 84,4 cm dan langsung dilanjutkan dengan pemberian makanan tambahan, pada kunjungan kedua tidak didapatkan pertambahan dari status gizi pasien. Setelah selang 2 minggu didapatkan pertambahan berat badan pasien menjadi 9,7 kg dengan tinggi badan yang masih sama. Kesimpulan studi ini didapatkan beberapa determinan gizi kurang dan stunting pada usia 34 bulan antara lain adalah pengetahuan dan pendidikan ibu, ekonomi keluarga, perilaku dan lingkungan.

Author Biographies

Ayu Pramita Azari, Mahasiswa Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Aulia Arista Hasibuan, Mahasiswa Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Noviana Zara, Departemen Ilmu Kedokteran Keluarga Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh
Lhokseumawe

Mardiati Mardiati, Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

Juwita Sahputri, Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

Rahmi Surayya, Departemen THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

Sarah Rahmayani Siregar, Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

Bungsu Keumala Sari, Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

References

Almatsier, S. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2007. Pedoman Pengukuran dan Pemeriksaan. Depkes RI. Jakarta.

Direktorat Gizi Masyarakat. 2016. Buku Saku Pemantauan Status Gizi dan Indikator Kinerja Gizi Tahun 2015. Kemenkes RI. Jakarta. Direktorat Gizi Masyarakat. 2017. Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) dan Penjelasannya Tahun 2016. Kemenkes RI. Jakarta.

Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKMUI. Gizi Dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada; 2007

Kemenkes. 2010. Peraturan Menteri Kesehatan RepublikIndonesia Nomor :1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Direktorat Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta : 4.Kemenkes RI. 2012. Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Kementerian Kesehatan dan JICA. Jakarta.

Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2015.

Oktarina Z. Hubungan Berat Lahir dan Faktor-Faktor Lainnya dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan di Provinsi Aceh, Sumatera Utara,Sumatera Selatan, dan Lampung pada Tahun 2010. Jakarta: Universitas Indonesia; 2012.

Pariyadi D, Ekayanti I, 2011.Analisis pengaruh perilaku keluarga sadar gizi.terhadap stunting di Propinsi Kalimantan Barat, Teknologi dan Kejuruan 34 :1,:71-80.

Panisa P. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 25-60 bulan di Kelurahan Kalibaru Depok Tahun 2012 [SKRIPSI]. Depok: Universitas Andalas; 2012.2.

Kemenkes RI 2016. Profil kesehatan Indonesia Tahun 2016. Available at: http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/profil-kesehatan-Indonesia-2016.pdf

World Health Organization. WHO Child Growth Standards and The Identification of Severe Acute Malnutrition in Infants and Children. 2010.

Supariasa IDN. 2012. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC.

Downloads

Published

2023-11-26