Menjadi Santri, Menyukai K-Pop: Negosiasi Identitas Santri di Pesantren Modern Al-Manar Aceh Besar
DOI:
https://doi.org/10.29103/aaj.v10i1.26772Keywords:
Budaya Populer, K-Pop, Negosiasi Identitas, Pesantren, SantriAbstract
This article examines how female students at Pesantren Modern Al-Manar Aceh Besar negotiate their identities when engaging with K-Pop culture. The study is based on the tension between pesantren as a religious educational institution that shapes students’ collective religious identity and K-Pop as a form of global popular culture accessed through family, peers, and digital media. Using a qualitative case study approach, data were collected through semi-structured interviews with female students who are K-Pop fans and female pesantren supervisors. The findings show that students’ interest in K-Pop is shaped by several factors, including family influence, peer interaction, visual appeal, music and choreography, inspirational idol narratives, and exposure to social media. However, students do not adopt K-Pop culture entirely. They negotiate their identities by selectively consuming K-Pop, limiting access and expression, prioritizing pesantren obligations, and avoiding elements considered inconsistent with Islamic values and pesantren rules. Pesantren regulations, including restrictions on personal items, clothing, language, and sudden inspections, function as a normative framework that shapes how students express or conceal their interest in K-Pop. This article argues that female students are not passive recipients of global popular culture, but active subjects who interpret, filter, and adjust their personal interests within the boundaries of religious identity and institutional discipline.
Abstrak: Artikel ini mengkaji bagaimana santriwati di Pesantren Modern Al-Manar Aceh Besar menegosiasikan identitas mereka ketika berhadapan dengan budaya K-Pop. Kajian ini berangkat dari ketegangan antara pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang membentuk identitas religius kolektif santri dan K-Pop sebagai budaya populer global yang diakses melalui keluarga, teman sebaya, dan media digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan santriwati penggemar K-Pop dan ustazah pengasuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketertarikan santri terhadap K-Pop dipengaruhi oleh relasi keluarga, interaksi teman sebaya, daya tarik visual, musik dan koreografi, narasi perjuangan idola, serta paparan media sosial. Namun, santri tidak mengadopsi budaya K-Pop secara total. Mereka menegosiasikan identitas melalui konsumsi yang selektif, pembatasan akses dan ekspresi, penempatan kewajiban pesantren sebagai prioritas, serta penghindaran terhadap unsur-unsur yang dianggap tidak sejalan dengan nilai Islam dan aturan pesantren. Aturan pesantren, seperti pembatasan barang pribadi, pakaian, bahasa, dan razia mendadak, berfungsi sebagai kerangka normatif yang membentuk cara santri menampilkan atau menyembunyikan minat terhadap K-Pop. Artikel ini menegaskan bahwa santri bukan penerima pasif budaya populer global, melainkan subjek aktif yang menafsirkan, menyaring, dan menyesuaikan minat personal dalam batas identitas religius dan disiplin kelembagaan.
References
Amaliah, R. A., Rama, B., & Yahdi, M. (2023). Lembaga pendidikan pesantren di Indonesia: Islamic boarding school education institutions in Indonesia. Iqra: Jurnal Ilmu Kependidikan dan Keislaman, 18(2), 15–106. https://doi.org/10.56338/iqra.v18i2.3771
Andina, A. N. (2019). Hedonisme berbalut cinta dalam musik K-Pop. Syntax Idea, 1(8), 41.
Annisah, N., Ramayeni, E., & Harahap, Z. S. (2024). Gaya hidup remaja dalam mengimitasi budaya pop Korea melalui televisi. Sosial: Jurnal Ilmiah Pendidikan IPS, 2(2), 160–161.
Damanhuri, A., Mujahidin, E., & Hafidhuddin, D. (2013). Inovasi pengelolaan pesantren dalam menghadapi persaingan di era globalisasi. Ta’dibuna: Jurnal Pendidikan Islam, 2(1), 18-20. https://doi.org/10.32832/tadibuna.v2i1.547
Erlangga, I. (2021). Negosiasi identitas budaya etnis lokal di Kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan (p. 19).
Glodev, V., Wijaya, G., & Ida, R. (2023). The Korean Wave as the globalization of South Korean culture. Wacana: Jurnal Ilmu Komunikasi, 22(1), 108. https://doi.org/10.32509/wacana.v22i1.2671
Gufron, I. A. (2019). Santri dan nasionalisme. Islamic Insights Journal, 1(1), 41–42.
Mu, N., Ulfa, R., Arfandi, M. F., & Yurike, A. (2024). Transformasi identitas religius dan spiritualitas dalam era sekularisasi: Perspektif sosiologi agama. Journal of Social Humanities and Education, 3, 257–259.
Murdiyanto, E. (2020). Penelitian kualitatif: Teori dan aplikasi disertai contoh proposal. Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat UPN “Veteran” Yogyakarta Press, 53.
Nisa, R. H., Putra, F. S., Tanjung, N. A., & Iqbal, M. (2025). Budaya pesantren sebagai identitas pendidikan Islam di Indonesia. Khidmat: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial, 3(2), 321–324.
Nurudin. (2025). TikTok, panggung untuk peledak K-Pop - Semilir.
Pesantren Modern Al-Manar. (2025). Profil Pesantren Modern Al-Manar.
Pramesti, A. M. S. S. (2022). Dampak drama Korea dan K-Pop terhadap santri. El-Hijaz: Antologi Kajian Keislaman, Sosial-Humaniora, & Sainstek, 1(1), 120–137.
Putri, A. I., & Cahaya, B. C. (2025). Pengaruh budaya asing dan media sosial terhadap identitas nasional generasi muda di era globalisasi. Jurnal Penelitian dan Pengabdian Pendidikan, 3(1), 2–3.
Rachman, L., & Muallif. (2024). Transformasi kurikulum Merdeka Belajar di madrasah berbasis pesantren. Afkaruna: International Journal of Islamic Studies (AIJIS), 2(1), 73-74. https://doi.org/10.38073/aijis.v2i1.1983
Ri’aeni, I., Suci, M., Pertiwi, M., & Sugiarti, T. (2019). Pengaruh budaya Korea (K-Pop) terhadap remaja di Kota Cirebon. Communications, 1(1), 9.
Sakinah, R. N., Hasna, S., & W. (2022). Pengaruh positif fenomena K-Pop terhadap karakter generasi muda di Indonesia (pp. 742–743).
Samsu. (2017). Metode penelitian: Teori dan aplikasi penelitian kualitatif, kuantitatif, mixed methods, serta research & development (Dr. Rusmini, S.Ag., M.Pd.I., Ed.; Cetakan I). Pusat Studi Agama dan Kemasyarakatan (PUSAKA), 96–97.
Sava, H., & Kamila, T. (2022). Kebermaknaan hidup santri yang menjadi abdi dalem di Pondok Pesantren Darun Nur Rukem (p. 2).
Sugiyono. (2013). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta, 246.
Sulistiawati. (2024). Budaya pop dan teknologi digital: Tantangan pembentukan nilai agama dan moral bagi remaja.
Syahputri, M. A. F. T. H. (2020). Potret industri halal Indonesia: Peluang dan tantangan. Potret Industri Halal Indonesia: Peluang dan Tantangan, 6(03), 429.
Tanzeh, A. (2018). Metode penelitian kualitatif: Konsep, prinsip, dan operasionalnya (Cetakan pertama). Akademia Pustaka, 90.
Tarsiah, T., Hamda, E. F., Dewi, R., & Saprijal. (2023). Fenomena Korean wave (gelombang Korea) pada mahasiswa: Studi kasus pada mahasiswa Perguruan Tinggi Al Washliyah dan mahasiswa Universitas Bina Bangsa Getsampena Banda Aceh. Tanah Pilih, 3(1), 31.
Ting-Toomey, S. (2015). Identity Negotiation Theory. In J. M. Bennett (Ed.), The SAGE Encyclopedia of Intercultural Competence (Vol. 1, pp. 418–422). SAGE Publications.
Wahyu Rafdinal, C. J., & M. P. I. A. (2023). Perkembangan Hallyu di Indonesia: Pemasaran budaya Korea Selatan. Dewa Publishing, 3–6.
Yusuf, A., & Safitri, L. (2020). Muhibbin sebagai representasi budaya pop santri di Banyumas. IBDA’: Jurnal Kajian Islam dan Budaya, 18(1), 48–67. https://doi.org/10.24090/ibda.v18i1.3356
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Miranda Miranda, Suci Fajarni

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Aceh Anthropological Journal (AAJ) uses license CC-BY or an equivalent license as the optimal license for the publication, distribution, use, and reuse of scholarly works. This license permits anyone to compose, repair, and make derivative creation even for commercial purposes, as long as appropriate credit and proper acknowledgement to the original publication from Aceh Anthropological Journal (AAJ) is made to allow users to trace back to the original manuscript and author. Readers are also granted full access to read and download the published manuscripts, reprint and distribute the manuscript in any medium or format.










