Tradisi Ratik Tolak Bala dan Ketahanan Pangan Masyarakat Koto Gadang VI Koto
DOI:
https://doi.org/10.29103/aaj.v9i2.23811Keywords:
ratik tolak bala, ketahanan pangan, hama pertanian, FAO, Minangkabau, strategi budayaAbstract
The food security of the Koto Gadang VI Koto community in Agam Regency, West Sumatra, is frequently threatened by crop failures caused by pests such as rats and planthoppers. This study aims to describe how the ratik tolak bala tradition functions as a cultural strategy for maintaining local food security. Employing a qualitative descriptive-analytical approach, the research collected data through participant observation, in-depth interviews with traditional and religious leaders, farmers, and field documentation. Data analysis used the interactive model of Miles and Huberman (reduction, display, conclusion drawing) and was interpreted through C.A. Van Peursen’s framework of tradition (mystical, ontological, and functional stages). The findings reveal that ratik tolak bala originated as a communal response to pest attacks threatening rice crops—the main food source. The ritual consists of two stages: ratik duduak (collective chanting in the mosque) and ratik tagak (processional chanting around the village), accompanied by the application of paureh, a herbal mixture of local plants, and field sanitation activities. Led by a mursyid (religious teacher), the ritual effectively reduced pest infestations, restored harvest yields, and ensured stable household rice stocks. Theoretically, the practice reflects a transition from mystical belief to functional rationality consistent with FAO’s four food security pillars: availability, access, utilization, and stability.
Abstrak: Ketahanan pangan masyarakat Nagari Koto Gadang VI Koto di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kerap terancam akibat gagal panen yang disebabkan oleh serangan hama seperti tikus dan wereng. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana tradisi ratik tolak bala berfungsi sebagai strategi budaya masyarakat dalam menjaga ketahanan pangan lokal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam dengan tokoh adat, tokoh agama, petani, serta dokumentasi lapangan. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, serta ditafsirkan melalui kerangka teori C.A. Van Peursen (mistis, ontologis, dan fungsional). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ratik tolak bala berawal dari upaya masyarakat menghadapi serangan hama yang mengancam sumber pangan. Tradisi ini dilaksanakan melalui dua tahapan utama, yaitu ratik duduak (dzikir di masjid) dan ratik tagak (dzikir keliling kampung), diikuti dengan penggunaan ramuan paureh dari dedaunan lokal dan pembersihan lahan pertanian. Pelaksanaan ritual yang dipimpin mursyid ini terbukti mampu menekan serangan hama, memulihkan hasil panen, dan menjaga keberlanjutan stok pangan rumah tangga. Secara teoritis, tradisi ini menunjukkan peralihan dari keyakinan mistis menuju fungsi rasional yang selaras dengan prinsip ketahanan pangan FAO: ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas.
References
Anonim. (2025). Profil Koto Gadang VI Koto [Tidak diterbitkan].
Arif, S., Widyanti, W., Hadi, S., & Nurhadi, E. (2020). Laporan penelitian Semeru: Tinjauan strategis ketahanan pangan dan gizi di Indonesia: Informasi terkini 2019–2020. The SMERU Research Institute. https://www.smeru.or.id/sites/default/files/publication/rr_fsn_indonesia_finalreport_ind.pdf
Azhari, A., Suryadi, S., & Hidayat, A. (2021). Sejarah dan ajaran Tarekat Syattariyah di Keraton Keprabon Cirebon. Sosains: Jurnal Sosial dan Sains, 1(5), 359–367.
Food and Agriculture Organization. (2008). An introduction to the basic concept of food security. Food and Agriculture Organization of the United Nations.
Garg, D. (2014). Approximate analysis of an M/M/1 Markovian queue using unit step function. OALib, 1(7), 1–5.
Jawan, A., Tokan, F. B., & Dhosa, D. D. (2025). Kearifan lokal masyarakat adat dalam menjaga ketahanan pangan melalui tradisi Rewa’ng Plea (Studi kasus desa di Daniwato Kecamatan Solor Barat Kabupaten Flores Timur). Journal Education and Government Wiyata, 3(1), 243–273. https://journal.wiyatapublisher.or.id/index.php/e-gov/article/view/212
Fazal, K., Muhammad, M., & Darmadi, D. (2022). Kuasa mantra dan ramuan: Teumangkai pada masyarakat Krueng Luas Aceh Selatan. Al- Adyan: Journal of Religious Studies, 3(2), 83-93. https://doi.org/10.15548/al-adyan.v3i2.4666
Koentjaraningrat. (2022). Pengantar ilmu antropologi. PT Rineka Cipta.
Megantara, F. S., & Prasodjo, N. W. (2021). Analisis gender pada ketahanan pangan rumah tangga petani agroforestri (Kasus: Desa Sukaluyu, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat). Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, 5(4), 577–596. https://ejournal-skpm.ipb.ac.id/index.php/jskpm/article/view/858
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). Sage Publications.
Muhammad, M. (2020). Hubungan agama dan budaya pada masyarakat Gampong Kereumbok Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, 22(2), 85–96. https://doi.org/10.22373/substantia.v22i2.7769
Munjiah, A. U., Fajriani, M. H., Puspitasari, N. W., & Jamaludin, U. (2024). Leuit sebagai upaya ketahanan pangan berbasis kearifan lokal di Desa Citorek. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 9(4), 255–265. https://journal.unpas.ac.id/index.php/pendas/article/view/20609
Novi, N., & Septrilia, V. (2020). Inventarisasi tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Durian Pandaan Kabupaten Pesisir Selatan. Biotropic: The Journal of Tropical Biology, 4(1), 40–47.
Peursen, C. A. van. (2000). Strategi kebudayaan. Penerbit Kanisius.
Prasetyo, G. L., Suryana, D., & Hidayat, R. (2025). Model pertanian berbasis kearifan lokal Kampung Naga untuk ketahanan pangan. Jurnal Citizenship Virtues, 5(1), 13–22.
Rasman, A., Sinta, T. E., & Fadel, A. M. (2023). Analisis implementasi program food estate sebagai solusi ketahanan pangan di Indonesia. Holistic: Journal of Tropical Agricultural Science, 1(1), 37–56. https://journal-iasssf.com/index.php/HJTAS/article/view/183
Redaksi5. (2022, Agustus 7). Puluhan hektar tanaman padi di Nagari Koto Gadang VI Koto diserang hama tikus. https://kaba12.co.id/puluhan-hektar-tanaman-padi-di-nagari-kotogadang-vi-koto-diserang-hama-tikus/
Salasa, A. R. (2021). Paradigma dan strategi ketahanan pangan di Indonesia. Jurnal Jejaring Administrasi Publik, 13(1), 35–36.
Spradley, J. P. (2016). Participant observation. Waveland Press.
Sugiyono. (2021). Metode penelitian kualitatif. CV Alpabeta.
Suwarno, R. N. (2024). Strategi ketahanan pangan dari basis lokal: Integrasi prinsip permakultur dalam teknologi pangan yang berkelanjutan. Indonesian Journal of Applied Science and Technology, 5(2), 52–54. https://www.journal.publicationcenter.com/index.php/ijast/article/view/1623
Tylor, E. B. (1874). Primitive culture: Researches into the development of mythology, philosophy, religion, art, and custom. John Murray.
Tumandaro, A. D., Syarif, H., & Zulkifli, M. (2016). Nagari Koto Gadang VI Koto Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat: Adat Salingka Koto. Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat.
Widen, K. (2024). Peranan kebudayaan dalam pembangunan: Perspektif antropologi. JISPAR: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Pemerintahan, 13(2), 487–488.
Widiati, S., & Azkia, L. I. (2023). Strategi pengembangan usaha dan peran sertifikasi halal produk pangan lokal UMKM dalam menunjang ketahanan pangan tingkat rumah tangga. SEBATIK, 7(1), 398–399. https://jurnal.wicida.ac.id/index.php/sebatik/article/view/2275
Yusrizal. (2024). 50 hektar lahan pertanian di Agam rusak dampak banjir lahar dingin Gunung Marapi. https://sumbar.antaranews.com/berita/610998/50-hektare-lahan-pertanian-di-agam-rusak-dampak-banjir-lahar-dingin-gunung-marapi
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Septriani Septriani, Maulid Hariri Gani, Basyarul Aziz, Tomi Arianto

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Aceh Anthropological Journal (AAJ) uses license CC-BY or an equivalent license as the optimal license for the publication, distribution, use, and reuse of scholarly works. This license permits anyone to compose, repair, and make derivative creation even for commercial purposes, as long as appropriate credit and proper acknowledgement to the original publication from Aceh Anthropological Journal (AAJ) is made to allow users to trace back to the original manuscript and author. Readers are also granted full access to read and download the published manuscripts, reprint and distribute the manuscript in any medium or format.










